CONTOH PROPOSAL PENGGEMUKAN SAPI BALI DAN PROPOSAL BISNIS PROPERTI

SEGERA PRAKTEKAN DAN IKUTI PETUNJUK PROPOSAL INI,SEMOGA BERMANFAAT DAN SUKSES DIBISNISNYA AMIN,,,

CONTOH PROPOSAL PENGGEMUKAN SAPI BALI DAN PROPOSAL BISNIS PROPERTI

SEGERA PRAKTEKAN DAN IKUTI PETUNJUK PROPOSAL INI,SEMOGA BERMANFAAT DAN SUKSES DIBISNISNYA AMIN,,,

CONTOH PROPOSAL PENGGEMUKAN SAPI BALI DAN PROPOSAL BISNIS PROPERTI

SEGERA PRAKTEKAN DAN IKUTI PETUNJUK PROPOSAL INI,SEMOGA BERMANFAAT DAN SUKSES DIBISNISNYA AMIN,,,

CONTOH PROPOSAL PENGGEMUKAN SAPI BALI DAN PROPOSAL BISNIS PROPERTI

SEGERA PRAKTEKAN DAN IKUTI PETUNJUK PROPOSAL INI,SEMOGA BERMANFAAT DAN SUKSES DIBISNISNYA AMIN,,,

DIRMAN : HP 087760911117 / 081330911117

SEGERA PRAKTEKAN DAN IKUTI PETUNJUK PROPOSAL INI,SEMOGA BERMANFAAT DAN SUKSES DIBISNISNYA AMIN,,,

Kamis, 24 September 2015

CONTACT US



Nama                     :
Sudirman, ST
Tempat/Tgl lahir     :
Bima, 09  September 1980
Agama                   :
Islam
Alamat                    :
Perumahan Bumi Mentari Permai Blok B/5 (Pamulang Depok) Jakarta
Pekerjaan               :
Wiraswasta
Telpon                    :
081330911117
087760911117
BB PIN  : 54dec296
Email                      :
 dirmanpropertidepok@gmail.com
dirman7811@yahoo.co.id
Riwayat Pendidikan:
SD       : Negeri 1 Dena  
SLTP   : Muhammadyah Dena
SMU    : SPP-SPMA Dati I NTB-Bima : 1993-1996
S1        : Universitas Satya Negara Indonesia USNI (Teknik SI) : 2000-2004 ( Jakarta selatan )
Alamat Kampung  :
Desa : Dena, Rt 13/05 No.32 Kec : Mada Pangga - Sila ( BIMA ~ NTB )
Website
www.dirmanbima.blogspot.com

PROPOSAL PENGGEMUKAN SAPI BALI 6

 

Proposal Penggemukkan Sapi

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1      Latar Belakang
            Prospek penggemukan sapi potong cukup bagus sejalan dengan meningkatnya penduduk, maka kebutuhan protein hewani akan meningkat. Selain itu, dengan adanya pengurangan kuota impor sapi dari Australia, mendorong peternakan lokal menjadi trend dan banyak dilirik. Prospek lain yang mendorong adalah menguatnya isu lingkungan mendorong pemakaian pupuk dan perlakuan organik bagi tanaman meningkat (sapi penghasil utama pupuk organik dari hewan). Disamping itu trend harga sapi dari tahun ke tahun tidak pernah menurun, cenderung 5 – 8 % di atas rata-rata inflasi. Usaha ini diharapkan dapat mensuplai kebutuhan daging sapi lokal, regional dan nasional.
Atas dasar kenyataan tersebut, maka sangat terbuka peluang bagi usaha penggemukan sapi khususnya di wilayah Solok. Bisnis penggemukan sapi potong dinilai dapat terintegrasi dengan bisnis lain dimana bahan baku pakan dapat diperoleh dengan mudah.       Sementara itu, limbah kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan pupuk organik yang saat ini permintaanya semakin meningkat. Dalam hubunganya dengan masyarakat sekitar, jenis usaha ini dapat menciptakan lapangan kerja baru. Selain itu, dengan adanya usaha ini diharapkan juga dapat memberikan edukasi bagi masyarakat sekitar dalam menumbuhkan jiwa wirausaha dengan memanfaatkan sumberdaya lokal. Dalam jangka panjang, usaha ini dapat dikembangkan melalui system pemberdayaan masyarakat sekitar dengan model inti-plasma atau model pola bagi hasil lainya.
1. 2      Tujuan
Tujuan usaha pengemukan sapi potong ini adalah sebagai berikut:
1.   Membuka lapangan pekerjaan
2.   Menumbuhkan dan mengembangkan jiwa wirausaha anggota kelompok tani
3.   Menggali sumber pendapatan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan keluarganya
4.   Untuk mempermudah masyarakat mendapatkan daging
5.   Mendukung Program Dinas Pertanian Kabupaten Solok, sehingga dapat memberikan kontribusi kebutuhan danging sapi baik untuk memenuhi kebutuhan lokal maupun nasional.
BAB II
PROFIL USAHA
2. 1    Teknis Produksi
            Usaha penggemukan sapi ini berskala 100 ekor sapi dengan bobot awal antara 300 kg/ekor. Penggemukan dilakukan dalam jangka waktu 3 bulan, sehingga diharapkan dapat melakukan usaha penggemukan sebanyak 4 periode dalam satu tahun. Target pencapaian bobot badan harian (PBBH) adalah 0.7 – 1.1 kg per ekor. Sehingga pada akhir periode penggemukan bobot sapi yang diharapkan mencapai 390-400 kg/ekor. Apabila permintaan pasar terus meningkat, tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan usaha ini dalam skala yang lebih besar.
2. 2     Lokasi
1.   Kriteria Lokasi   
            Lokasi usaha yang akan didirikan yaitu di (Nagari Koto Anau) Kec. Lembang Jaya, Kabupaten  Solok. Lahan yang akan digunakan adalah lahan milik pribadi. Pengolahan lahan dilakukan selama dua bulan, sedangkan pembuatan kandang selama empat bulan. Rancangan usaha ini dimulai dari pengolahan lahan, pembuatan kandang, pembersihan kandang, pemeliharaan, panen dan pasca panen. Kegiatan usaha ini dilakukan untuk mengetahui jumlah dan efisiensi penggunaan waktu, dan modal yang dimiliki. Diharapkan usaha ini kedepannya dapat berjalan dengan lancar dan mampu bersaing didalam dan luar daerah dalam memenuhi kebutuan masyarakatnya. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya tidak perlu mendatangkan sapi dari luar daerah karena usaha ini mampu mencukupinya  
            Lokasi yang sesuai untuk penggemukan sapi harus memenuhi beberapa kriteria penting, diantaranya adalah :
  1. Bebas dari penyakit endemik, misalnya antraks
  2. Dekat dengan sumber air bersih
  3. Dekat dengan akses jalan raya
  4. Dekat dengan kebun hijauan makanan ternak (HMT), atau terdapat sumber pakan murah berupa limbah-limbah hasil industri pertanian
  5. Dekat dengan sumber bakalan dan pasar.
2.   Gambaran Umum Wilayah / Lokasi    
            Nagari Koto anau Solok cocok untuk usaha penggemukan sapi, karena didukung oleh cuaca, suhu, curah hujan, tempat pemasaran, sarana transportasi dan lingkungan pendukung lainnya. Lokasi peternakan jauh dari pemukiman penduduk sehingga tidak mengganggu kenyamanan dan aktifitas penduduk. Keadaan topografi Kabupaten Solok bervariasi antara dataran dan berbukit dengan ketinggian 450- 900 dpl serta curah hujan rata-rata 184,31 mm kubik per tahun. Terdapat tiga anak sungai yang melintasi  Solok, yaitu Sungai Batang Lembang, Sungai Batang Gawan dan Sungai Batang Air Binguang. Suhu udara berkisar dari 17,1 °C sampai 28,9 °C. Dilihat dari jenis tanah, 35% tanah di Solok merupakan tanah sawah dan sisanya 65% berupa tanah kosong subur / kering yang belum dimanfaatkan
            Desa / Nagari Koto Anau  merupakan daerah agraris yang sebagian penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Tanah yang subur menyebabkan sebagian besar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Kondisi ini banyak dimanfaatkan oleh para petani untuk memelihara sapi potong karena mudahnya mendapatkan rumput untuk makanan. Di Desa ini selain pakan mudah didapat, lahan pemeliharaannya tersedia cukup banyak.. Potensi lainnya, pakan tambahan seperti bekatul padi, bekatul jagung, ketela pohon, ampas ketela, ampas tahu, jerami padi / jagung  dan lain-lain banyak didapat dan relative murah.
2. 3    Kandang
            Kandang yang digunakan berupa kandang individu dengan ukuran 2 x 1,5 m per ekor, sehingga luas bangunan seluruh unit kandang 340 m2. Satu unit kandang yakni 170 m2. Kandang dibangun secara permanen dengan alas berupa beton, kerangka bangunan dari kayu dan atap berupa genting.
            Pembuatan kandang pada lahan  ± 2 hektar ini sebanyak 2 unit kandang, yang miliki lebar dan panjang masing-masing 10 -100 m. Yang dibatasi masing-masingnya dengan jarak antar kandang 5 meter, dan tiap kandang menampung 50 ekor/kandang. Jadi terdapat 2 unit kandang dan lahan yang masih ada digunakan sebagai gudang penyimpanan pakan, obat – obatan dan peralatan kandang lainnya dan juga sebagai penginapan/ tempat istirahat pegawai.
1. Perencanaan Kandang  meliputi:
a. Ternak sapi dengan kebutuhan 
b. Pengaruh iklim 
c. Bahan bangunan
2. Dasar Perencanaan Kandang Tropis
a. Indeks kenyamanan tropis 
b. Orientasi kandang terhadap matahari dan angin
c. Memilih bahan atap kandang
d. Pedoman Perencanaan Kandang Tropis
e. Ventilasi kandang
2. 4    Bakalan Sapi
            Bakalan sapi yang akan digunakan yaitu sapi lokal peranakan Simental atau Limousin. Dengan menggunakan kedua jenis sapi tersebut, diharapkan target pertambahan bobot badan harian (PBBH) bisa mencapai 0.7 ,- 1,1 kg. Sapi yang akan digemukkan berumur antara 1,5 sampai 2 tahun dengan rata-rata bobot badan antara 200-300 kg/ekor.
2. 5     Pakan
            Jenis pakan yang akan diberikan berupa hijauan dan konsentrat dengan perbandingan 60 : 40. Sehingga untuk sapi dengan bobot badan 250 kg, maka hijauan segar yang diberikan sebanyak 30 kg dan konsentrat 5 kg perhari. Pakan hijauan berupa rumput Raja (King Grass) yang bersumber dari kebun HMT. Sedangkan konsentrat yang akan digunakan merupakan konsentrat yang sudah jadi ditambah dengan ampas tahu dan dedak.
2. 6     Tenaga Kerja
1.  Tenaga Kerja         
Tenaga kerja tetap yang akan dipekerjakan yaitu 4 orang, masing-masing menangani 10 ekor sapi. Tugas dan tanggungjawab pekerja kandang ini meliputi kegiatan penanganan sapi sehari-hari seperti pemberian pakan, membersihkan kandang, dan pengolahan limbah atau kotoran ternak. Upah yang diberikan sebesar Rp. 2000 perhari untuk tiap ekor sapi, atau setara dengan Rp.600.000 perbulan untuk setiap pekerja.
2.  Struktur organisasi dan pembagian kerja.
Disusun untuk pembagian tugas dan tanggung jawab masing – masing pegawai untuk menjalankan usaha agar berjalan lancar, dan menghindari hal – hal yang tak diinginkan terjadi.
STRUKTUR USAHA


Usaha dipimpin oleh seorang pemimpin dan dibantu oleh menejer dan pegawai/pekerja yang masing – masingnya memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menjalankan usaha dengan sebaik - baiknya. Pemimpin mengontrol jalannya usaha dan mengawasi bawahannya, maju mundurnya usaha ini tergantung pada pemimpin dalam menjalankan usaha. Diharapkan pemimpin yang telah berpengalaman dan mampu memimpin usaha dengan baik. Menejer bertugas bertanggung jawab langsung kepada pemimpin usaha yang membawahi pegawai – pegawainya sesuai dengan tugas dan wewenang yang dipikulnya. Pegawai memilki anggota dan bertanggung jawab kepada menejer, sedangkan anggota bertanggung jawab kepada pegawai, yang kesemuanya ini bertujuan menjalankan usaha dengan sebaik – baiknya dan bekerja sesuai dengan tugas dan tanngung jawab yang diberikan.
Penempatan posisi ini sangat berpengaruh kepada usaha yang dijalankan, hendaknya memilih pekerja/pegawai yang memiliki ilmu dan pengalaman untuk menempati bagian – bagian tertentu. Untuk memaksimalkan jalannya usaha diperlukan perencanaan yang matang.
Gaji karyawan perbulan
1.      Pimpinan                                 Rp, 3.000.000
2.      Pegawai 4 orang                      Rp, 4.800.000
3.      Anggota/karyawan 2 orang     Rp, 1.200.000
2. 7      Sarana dan Prasarana
            Sarana dan prasarana yang diperlukan dalam usaha penggemukan sapi diantaranya adalah : gudang pakan beserta peralatanya, bangunan kantor dan perlengkapanya, serta instalasi air.
3. 1     Aspek  Sosial  Dan Lingkungan
      Lokasi usaha yang akan dibangun ini akan didirikan pada tanah hak yang telah merupakan hak milik pribadi, dan bukan merupakan tanah kaum. Usaha ini akan dibangun pada tanah seluas ± 2 ha, dan disekitar usaha ini terdapat lahan pertanian penduduk dan sungai kecil yang digunakan sebagai saluran irigasi ke sawah – sawah masyarakat sekitar. Usaha peternakan ini tidak memberikan dampak negative pada lingkungan sekitar, karena didirikan pada lokasi jauh dari pemukiman masyarakat. Hasil pembuangan seperti kotoran ayam dapat dijual didaerah ini karena dapat digunakan sebagai pupuk kandang, pupuk ini dinilai lebih menguntungkan karena harganya murah dan dapat memperbaiki struktur tanah lebih baik serta dapat menghemat pemakaian pupuk buatan. Usaha ini akan berdampak baik untuk lingkungan sekitar, masyarakat dapat memanfaatkan pupuk kandang untuk usaha pertanian mereka yang bercocok tanam tanaman muda didaerah ini.
3.2     Aspek Ekonomi
Usaha peternakan ini nantinya akan menyerap tenaga kerja, dan akan memberikan pemberdayaan kepada masyarakat sekitar usaha peternakan. Usaha peternakan ini akan menggunakan usaha kerja masyarakat, akan menampung tenaga kerja untuk proses produksi. Dengan menggunakan tenaga kerja ini akan menghemat biaya produksi dan dapat member lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
3.3Aspek Yuridis
Usaha penggemukan yang akan didirikan di Nagari Koto Anau Kec. Lembang Jaya, Kabupaten  Solok . Lahan yang akan digunakan adalah lahan sendiri , lahan seluas ± 2 hektar. Keadaan topografi lahan bervariasi, datar dan berbukit, sedikit lereng dan dilewati oleh aliran sungai kecil. Dengan kata lain lahan sudah siap untuk digunakan untuk usaha ini, kondisi lahan yang dulunya lahan pertanian kini tidak di pakai sehingga memudahkan dalam pengolahan lokasi.
 BAB III
PEMASARAN
1.1     Target Pasar
            Potensi usaha ternak sapi cukup menyebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Namun demikian jumlah produksi tersebut masih belum memenuhi permintaan untuk pasar lokal sekalipun. Sehingga dalam rencana usaha ternak penggemukan sapi potong ini ditargetkan untuk mengisi kebutuhan pasar lokal Sumatera Barat.
1.2     Kebutuhan dan Proyeksi Pasar
            Peluang peningkatan bisnis ternak sapi untuk pasar domestik sangat terbuka luas. Pasar lokal dapat diartikan  kabupaten dan provinsi apabila kita lihat di pasar-pasar tersebut tidak sedikit para pedagang yang menjual daging sapi, terlebih lagi apabila pada hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri terjadi berbagai  jamur di musim penghujan, banyak pedagang-pedagang baru untuk mencari keuntungan menjual daging sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, di samping  itu pula pada hari Raya Idul Adha, sesusai dengan tingkat ekonomi masyarakat yang dimiliki tidak sedikit pula orang yang menyembelih untuk korbannya yaitu sapi. Keadaan tersebut di atas merupakan indicator bahwa kebutuhan daging sapi untuk dikonsumsi semakin meningkat. Produk ikutan dalam usaha penggemukan sapi diluar daging adalah kulit. Permintaan kulit sebagai bahan baku aneka kerajinan dan bahan asesoris pakaian memiliki kecenderungan yang terus meningkat.
 BAB IV
ANALISA FINANSIAL
  1. 1.    Biaya Investasi Awal
Jumlah dana atau modal yang dibutuhkan untuk kegiatan usaha penggemukan ternak sapi potong berdasarkan rancangan kebutuhan 100  ekor sapi adalah sebagai berikut :
1.   Biaya Tetap
Pembuatan kandang sapi (Rp.1.500.000,-/ekor)                                 = Rp.    150.000.000,-
2.   Penyusutan Kandang                                                                    =Rp.    500.000,-
3.   Penyusutan Peralatan                                                                    =Rp.    200.000,-
Biaya Tetap                                                                                                   = Rp.   150.700.000,-
  • Biaya Operasional
1.   Pengadaan/pembelian sapi jenis Lemousin dan Mental
      100 ekor x Rp 8.500.000                                                              = Rp.   850.000.000,-
2.   Pakan untuk 3 bulan (Rp 2000,-/ekor/hari)                                   = Rp.    54.360.000.-
3.   Vitamin, mineral dan obat cacing (1 paket)                                  = Rp.      2.500.000,-
4.    Manajer / pimpinan : 1 x 3 bulan x 3.000.000                              = Rp     9.000.000,-
5.    Pengawai : Rp 4.800.000,- x 3 bulan                                           = Rp      14.400.000,-
6.    Anggota / pekerja : Rp 1.200.000,- x 3 bulan                              = Rp.      3.600.000,-
Jumlah biaya operasional                                                                 = Rp.     933.860.000,-
            Jumlah dana/modal yang diperlukan penggemukan ternak sapi potong selama satu periode produksi (3 bulan/90 hari pertama) adalah sebesar Rp. 933.860.000,-
·         Biaya lain-lain
1. Biaya listrik & Telpon                                                                     = Rp.   500.000,-
2. Transportasi                                                                                     = Rp    1.500.000,-
Jumlah Biaya Lain-lain                                                                    = Rp    2.000.000,-
Biaya Produksi          = Biaya Tetap + Biaya Operasional + Biaya Lain-lain     
                                    = Rp.    150.700.000,- + Rp.  933.860.000,- +Rp.  2.000.000,-
                                    = Rp.    1.086.560.000,-
  1. 2.     Penjualan dan Keuntungan
Penjualan
Kenaikan bobot sampai satu priode penggemukan berdasarkan pengalaman mencapai 1                        kg/hari
Bobot awal ternak sapi saat diterima oleh kelompok tani, rata-rata diperkirakan 300 kg.
Bobot sapi saat dijual oleh kelompok tani/petani = 90 hari x 1 kg + 300 kg = 390 kg/ekor.
Bobot sapi seluruhnya (100 ekor) = 390 kg x 100 ekor =  39.000  kg
 Harga 1 kg daging sapi yakni  Rp 30.000,-
Diperkirakan harga sapi saat penjualan sapi tersebut adalah =
             39.000 kg x Rp. 30.000,-                          = Rp. 1.170.000.000,-
6.      Setiap sapi menghasilkan 10 kg kotoran, sehingga selama periode penggemukan 90 hari   seekor sapi menghasilkan 900 kg kotoran dengan harga per kg Rp. 200. Total pendapatan dari hasil penjualan kotoran sapi  100 ekor x 900 kg x Rp 200,00 = Rp.18.000.000,-
Total Pendapatan = Rp. 1.170.000.000,- + 18.000.000,-    = Rp. 1.188.000.000,-
Keuntungan
1.   Biaya Produksi                                                      = Rp. 1.069.100.000,-
2.   Total Pendapatan                                                  = Rp. 1.578.000.000,-
Keuntungan yang diperoleh                                        = Penjualan –  Semua Biaya Produksi
                                                =          Rp . Rp. 1.188.000.000,--  Rp.   1.086.560.000,-
                                                            =          Rp.  101.440.000,-
Jadi keuntungan yang diperoleh selama 3 bulan adalah Rp. 101.440.000,-   atau Rp. 33.813.333,- untuk 1 bulan.
PENUTUP
            Berdasarkan paparan usaha beserta analisis finansial diatas, usaha ini sangat layak untuk dilaksanakan. Investasi awal yang diperlukan untuk usaha penggemukan sapi skala 100 ekor sebesar Rp. 1.086.560.000,- . Keuntungan yang dapat diperoleh sebesar Rp. 101.440.000,- untuk periode 3 bulan atau  Rp 33.813.333,- untuk 1 bulan. Sehingga usaha penggemukan sapi potong patut dikembangkan. Demikian proposal usaha ini kami buat, semoga jalinan kerjasama dapat terlaksana dengan baik.
PROPOSAL
USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG
sapi
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Usaha penggemukan sapi potong merupakan salah satu peluang usaha yang prospektif yang dapat dikembangkan di kabupaten Subang. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya kebutuhan akan konsumsi daging di Indonesia  dari tahun ke tahun, sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan rata-rata kualitas hidup masyarakat serta semakin tingginya kesadaran dari masyarakat untuk mengkonsumsi pangan dengan kualitas baik dan kuantitas yang cukup.
Usaha penggemukan sapi potong juga relevan dengan upaya pelestarian sumberdaya lahan. Kotoran sapi yang diperoleh selama masa penggemukan, selain volumenya yang cukup besar juga memiliki berbagai kandungan senyawa dan mikroorganisme   yang dapat digunakan untuk memperbaiki tekstur dan kesuburan tanah. Dalam tinjauan makro, pengembangan usaha penggemukan sapi juga merupakan salah satu upaya penghematan devisa. Pengembangan usaha penggemukan sapi merupakan salah satu upaya substitusi impor. Dengan demikian usaha penggemukan sapi sangat layak dalam tinjauan mikro, dan sangat terpuji dalam pandangan makro.
Sekilas Tentang  Sapi
Beberapa jenis sapi yang biasa digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :
  1. Sapi Ongole
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.
  1. Sapi Bali
Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.
  1. Sapi Brahman
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.
  1. Sapi Madura
Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.
  1. Sapi Limousin
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik
Visi dan Misi
Visi dan misi rencana usaha penggemukan ternak sapi potong :
  1. Melalui pola kemitraan antara manajemen, investor, dan petani ternak diharapkan dapat terjalin kerjasama yang kuat sehingga tujuan untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama bagi para petani ternak  dapat tercapai.
  2. Memanfaatkan sumber daya alam  yang dimiliki Kabupaten Subang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya seoptimal dan seefisien mungkin untuk mengembangkan usaha ternak penggemukan sapi potong.
  3. Meningkatkan populasi dan produksi ternak dalam upaya pemenuhan kebutuhan produksi ternak khususnya di jawa Barat.
ANALISIS PASAR
Target Pasar
Potensi usaha ternak sapi cukup menyebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Pasar yang paling potensial untuk daging sapi adalah kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan wilayah Bodetabek. Namun demikian jumlah produksi tersebut masih belum memenuhi permintaan untuk pasar lokal sekalipun. Sehingga dalam rencana usaha ternak penggemukan sapi potong ini ditargetkan untuk mengisi kebutuhan pasar lokal Subang.
Kebutuhan dan Proyeksi Pasar
Peluang peningkatan bisnis ternak sapi untuk pasar domestik sangat terbuka luas. Ternak sapi secara periodik memiliki permintaan yang tinggi yaitu menjelang Hari Raya Kurban. Selain itu ternak sapi juga dapat dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi daging harian.
Produk ikutan dalam usaha penggemukan sapi diluar daging adalah kulit. Permintaan kulit sebagai bahan baku aneka kerajinan dan bahan asesoris pakaian memiliki kecenderungan yang terus meningkat. Ada beberapa pengrajin kulit di Garut misalnya, terpaksa gulung tikar karena kesulitan memperoleh kulit sebagai bahan baku usahanya.
ANALISIS KEUANGAN
Asumsi Keuangan
  • Usaha dirancang untuk menghasilkan 20 ekor sapi PO ( peranakan ongole) setiap periode penggemukan.
  • Satu ekor sapi membutuhkan luas kandang individual 4 m2, sehingga luas kandang yang dibutuhkan 80 m2 (biaya 1 m2 = Rp 250.000,00),
Total biaya pembuatan kandang Rp 20.000.000,00.
Dengan masa pakai 10 tahun maka biaya penyusutan per tahun = Rp 2.000.000,00
atau per 90 hari masa penggemukan = Rp. 500.000,00
  • Sapi digemukan selama 90 hari. Berat awal sapi bakalan rata-rata 300 kg dengan harga per  kg  Rp. 17.000,00.
Pertambahan berat badan harian yang diinginkan adalah 0.5 kg per hari, sehingga berat akhir sapi setelah masa penggemukan 90 hari adalah 345 kg.
Maka total pendapatan adalah 20 ekor x 345 x Rp. 17.000,00 =      Rp.117.300.000,00
  • Setiap sapi menghasilkan 10 kg kotoran, sehingga selama periode penggemukan  90 hari seekor sapi menghasilkan 900 kg kotoran dengan harga per kg Rp. 200.
Total pendapatan dari hasil penjualan kotoran sapi  20 ekor x 900 kg x Rp 200,00 = 3.600.000,00
Rencana Investasi
Hasil analisis asumsi keuangan usaha ternak sapi potong volume 20 ekor periode produksi 90 hari dapat dilihat dalam tabel di bawah ini
NO
URAIAN
SATUAN UNIT
VOLUME
HARGA / UNIT (Rp)
NILAI (Rp)
1.
Pembuatan Kandang
Meter
80
250.000
20.000.000
2.
Pembelian Sapi Bakalan
Ekor
20
5.100.000
102.000.000
3.
Pakan Konsentrat
Kg
1800
1.000
1.800.000
4.
Pakan Hijauan
Kg
54.000
100
5.400.000
5.
Obat-Obatan
botol
20
50.000
1.000.000
Total
130.200.000
Proyeksi Laba Rugi / 90 hari masa penggemukan
No.
INVESTASI
JUMLAH (Rp)
Biaya Tetap
1.
Penyusutan Kandang
500.000,00
2.
Penyusutan Peralatan
200.000,00
Biaya Variabel /Produksi
1.
Pembelian sapi bakalan
102.000.000,00
2.
Pakan konsentrat
1.800.000,00
3.
Pakan hijauan
5.400.000,00
Biaya lain-lain
1.
Biaya listrik & Telpon
300.000,00
2.
Transportasi
500.000,00
Total biaya produksi
110.700.000,00
Pendapatan
1.
Penjualan sapi hasil penggemukan
117.300.000,00
2.
Penjualan kotoran sapi
3.600.000,00
Total Pendapatan
120.900.000,00
Proyeksi laba / rugi (keuntungan)
10.200.000,00
Sistem bagi hasil sebesar 70 : 30 dengan perbandingan 70 % untuk peternak  (plasma) dan 30% untuk pemerintah daerah (inti). Maka keuntungan yang diperoleh yaitu :
  • Pemda   sebesar  30% x Rp 10.200.000,00                 =  Rp 3.060.000,00
  • Peternak sebesar 70% x Rp 10.200.000,00                 =  Rp 7.140.000,00

DIRMAN BIMA

PROPOSAL PENGGEMUKAN SAPI BALI 5




USAHA PENGEMBANGAN SAPI BALI SEBAGAI TERNAK LOKAL DALAM MENUNJANG PEMENUHAN KEBUTUHAN PROTEIN ASAL HEWANI DI INDONENSIA

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pembangunan sub-sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian, dimana sektor memiliki nilai strategis dalam memenuhi kebutuhan pakan yang terus meningkat atas bertambahnya jumlah penduduk Indonensia, dan peningkatan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia dan taraf hidup pertani dan nelayan. Keberhasilan pembangunan tersebut ternyata berdampak pada perubahan konsumsi masyarakat yang semula lebih banyak mengkonsumsi karbohidrat ke arah konsumsi seperti daging, telur, susu (Putu, et al., 1997). Lebih lanjut dijelaskan bahwa permintaan akan telur dan daging ayam dalam negeri saat ini telah dapat dipenuhi oleh produksi lokal, akan tetapi susu dan daging sapi masih memerlukan pasokan dari luar negeri. Berbagai usaha pembangunan peternakan telah diupayakan oleh pemerintah sampai ke pelosok daerah namun masih terdapat kekurangan produksi yang akan mensuplay kebutuhan penduduk Indonesia akan protein hewani.
Kondisi peternakan sapi potong saat ini masih mengalami kekurangan pasokan sapi bakalan lokal karena pertambahan populasi tidak seimbang dengan kebutuhan nasional, sehingga terjadi impor sapi potong bakalan dan daging (Putu, et al., 1997). Kebutuhan daging sapi di Indonesia saat ini dipasok dari tiga pemasok yaitu ; peternakan rakyat (ternak lokal), industri peternakan rakyat (hasil penggemukan sapi ex-import) dan impor daging (Oetoro, 1997). Selanjutnya dijelaskan bahwa untuk tetap menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan ternak potong, usaha peternakan rakyat tetap menjadi tumpuan utama, namun tetap menjaga kelestarian sumberdaya ternak sehingga setiap tahun mendapat tambahan akhir positif.
Sapi Bali merupakan breed sapi asli Indonesia mempunyai potensi yang besar, diharapkan dapat mensuplay sebagian dari kekurangan tersebut. Sapi Bali mempunyai populasi dengan jumlah 2.632.125 ekor atau sekitar 26,92% dari total populasi sapi potong yang ada di Indonesia (Anonimus, 1999). Adapun perbandingan populasi sapi Ongole, Peranakan Ongole, Bali, sapi Madura dan sapi lainnya Tahun 1988 dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah populasi sapi Ongole, Peranakan Ongole, Bali dan sapi Madura Tahun 1988*
Bangsa
Jumlah
Persentase
Ongole
Peranakan Ongole
Bali
Madura
Lainnya
260.094
773.165
2.632.125
1.131.375
4.979.830
2.66
8.17
26.92
11.57
50.68
*Anonimus, (1999).
Tabel 1 menunjukkan bahwa di Indonesia sapi potong masih didominasi sapi lainnya yang di impor dari negara lain misalnya Australia, dan tidak menutup kemungkinan bahwa jika perhatian ke ternak lokal tidak sedini mungkin di antisipasi maka ternak lokal akan semakin terkuras populasinya.
Di Indonesia perkembangan sapi Bali sangat cepat dibanding dengan breed potong lainnya, hal tersebut disebabkan breed ini lebih diminati oleh petani kecil karena beberapa keunggulannya yang antara laian, tingkat kesuburunnya tinggi, sebagai sapi pekerja yang baik dan efesien serta dapat memanfaatkan hijauan yang kurang bergizi dimana breed lainnya tidak dapat (Moran, 1990), persentase karkas tinggi, daging tanpa lemak, heterosis positif tinggi pada persilangan (Pane, 1990), daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan dan persentase beranak dapat mencapai 80 persen (Ngadiyono, 1997). Selain beberapa keunggulan di atas terdapat juga beberapa kekurangan yakni bahwa sapi Bali pertumbuhannya lambat, rentan terhadap penyakit tertentu misalnya; penyakit jembrana, peka terhadap penyakit ingusan (malignant catarrhal fever) dan Bali ziekte (Darmaja, 1980; Hardjosubroto, 1994).
Permasalahan
ü Permasalahan yang coba diangkat dalam makalah ini adalah masalah pemenuhan konsumsi protein hewani asal sapi potong yang belum terpenuhi, sehingga impor untuk memenuhi kebutuhan tersebut dari tahun ke tahun masih dilakukan.
ü Adanya potensi ternak sapi lokal yang bisa lebih dikembangkan dengan manajemen yang lebih baik, untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
ü Pola perkembangan sapi yang dapat dilakukan untuk menanggulangi keadaan tersebut.
ü Program pemuliaan untuk menunjang tercapainya produksi baik melalui cara peningkatan bobot potong atau meningkatkan populasi ternak lokal.
ü
TINJAUAN PUSTAKA
Sapi Bali
Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari Banteng (bibos banteng) (Hardjosubroto, 1994) dan merupakan sapi asli Pulau Bali (Payne dan Rollinson, 1974 dalam Sutan, 1988).
Ditinjau dari sistematika ternak, sapi Bali masuk familia Bovidae, Genus bos dan Sub-Genus Bovine, yang termasuk dalam sub-genus tersebut adalah; Bibos gaurus, Bibos frontalis dan Bibos sondaicus (Hardjosubroto, 1994), sedang Williamson dan Payne (1978) menyatakan bahwa sapi Bali (Bos-Bibos Banteng) yang spesies liarnya adalah banteng termasuk Famili bovidae, Genus bos dan sub-genus bibos. Sapi Bali mempunyai ciri-ciri khusus antara lain; warna bulu merah bata, tetapi yang jantan dewasa berubah menjadi hitam (Hardjosubroto, 1994). Satu karakter lain yakni perubahan warna sapi jantan kebirian dari warna hitam kembali pada warna semula yakni coklat muda keemasan yang diduga karena makin tersedianya hormon testosteron sebagai hasil produk testes (Aalfs, 1934 dalam Darmaja, 1980).
Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa ada tanda-tanda khusus yang harus dipenuhi sebagai sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis belut (garis hitam) yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling edial disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok keatas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang edial yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah kebelakang sedikit melengkung kebawah dan pada ujungnya sedikit mengarah kebawah dan kedalam, tanduk ini berwarna hitam.
Saat ini penyebaran sapi Bali telah meluas hampir keseluruh wilayah Indonesia, konsentrasi sapi Bali terbesar adalah di Sulawesi Selatan, Pulau Timor, Bali dan Lombok. Pane (1989) menyatakan bahwa jumlah sapi Bali di Sulawesi Selatan dan Pulau Timor telah jauh melampaui populasi sapi Bali ditempat asalnya (Pulau Bali). Pada tahun 1991 ditaksir jumlah sapi Bali di Indonesia sekitar 3,2 juta, dengan jumlah terbanyak di Sulawesi Selatan (1,8 juta ekor), Nusa Tenggara Timur (625 ekor) dan Pulau Bali (456 ekor) (Hardjosubroto, 1994.
Produktivitas Sapi Bali
Produktivitas adalah hasil yang diperoleh dari seekor ternak pada ukuran waktu tertentu (Hardjosubroto, 1994), dan Seiffert (1978) menyatakan bahwa produktivitas sapi potong biasanya dinyatakan sebagai fungsi dari tingkat reproduksi dan pertumbuhan. Wodzicka-Tomaszewska et al. (1988) menyatakan bahwa aspek produksi seekor ternak tidak dapat dipisahkan dari reproduksi ternak yang bersangkutan, dapat dikatakan bahwa tanpa berlangsungnya reproduksi tidak akan terjadi produksi. Dijelaskan pula bahwa tingkat dan efesiensi produksi ternak dibatasi oleh tingkat dan efesiensi reproduksinya. Dalton (1987) menyatakan bahwa produktivitas nyata ternak merupakan hasil pengaruh genetik dan lingkungan terhadap komponen-komponen produktivitas. Selanjutnya Warwick dan Lagetes (1979) menyatakan bahwa performan seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan pengaruh komulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak bersangkutan sejak terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Hardjosubroto (1994) dan Astuti (1999) menyatakan bahwa faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak sedang faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa seekor ternak tidak akan menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang baik dimana ternak hidup atau dipelihara, sebaliknya lingkungan yang baik tidak menjamin panampilan apabila ternak tidak memiliki mutu genetik yang baik.
Astuti et al. (1983) dan Keman (1986) menyatakan bahwa produktivitas ternak potong di Indonesia masih tergolong rendah dibanding dengan produktivitas dari ternak sapi di negara-negara yang telah maju dalam bidang peternakannya, namun demikian Vercoe dan Frisch (1980); Djanuar (1985); Keman (1986) menyatakan bahwa produktivitas sapi daging dapat ditingkatkan baik melalui modofikasi lingkungan atau mengubah mutu genetiknya dan dalam praktek adalah kombinasi antara kedua alternatif diatas.
Trikesowo et al. (1993) menyatakan bahwa yang termasuk dalam komponen produktivitas sapi potong adalah jumlah kebuntingan, kelahiran, kematian, panen pedet (calf crop), perbandingan anak jantan dan betina, jarak beranak, bobot sapih, bobot setahun (yearling), bobot potong dan pertambahan bobot badan. Tabel 2 menunjukkan rataan persentase kelahiran, kematian dan calf crop beberapa sapi potong di Indonesia.
Tabel 2. Rataan persentase kelahiran, kematian dan calf crop beberapa sapi potong di Indonesia
Bangsa
Kelahiran
Kematian
Calf crop
Brahman
Brahman cross
Ongole
Lokal cross
Bali
50,71
47,76
51,04
62,47
52,15a
10,35
5,58
4,13
1,62
2,64b
48,80
45,87
48,53
62,02
51,40c
Sumadi, (1985)
aDarmadja, (1980)
bSutan, (1988)
cPane, (1989)
Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa sapi Bali memperlihatkan persentase kelahiran 52,15% lebih tinggi di banding dengan sapi Brahman 50,71%, Brahman cross 47,76% dan sapi Ongole 51,04% kecuali Lokal cross (Lx) 62,47%, demikian pula calf crop sapi Bali 51,40% lebih tinggi dibanding sapi Brahman 48,80%, Brahman cross 45,87% dan sapi Ongole 48,53% kecuali Lokal cross sebesar 62,02 % serta persentase kematian yang rendah. Hal tersebut dapat memberi gambaran bahwa produktivitas sapi Bali sebagai sapi asli Indonesia masih tinggi, namun jika dibandingkan dengan sapi asal Australia masih tergolong rendah yakni calf crop-nya dapat mencapai 85 % (Trikesowo et al., 1993).
Vercoe dan Frisch (1980) menyatakan bahwa sifat produksi dan reproduksi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bangsa sapi, keadaan tanah, kondisi padang rumput, penyakit dan manajemen. Oleh karena itu perbaikan mutu sapi potong haruslah ditekankan pada peningkatan sifat produksi dan reproduksi yang ditunjang oleh pengelolaan yang baik dari segi zooteknis dan bioekonomis.
Adapun penampilan produktivitas sapi Bali di beberapa Provinsi dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Penampilan produktivitas sapi Bali di beberapa Provinsi di Indonesia*
Keterangan
Sul.Sel
NTT
Irja
NTB
Bali
P3Bali
Berat Lahir (Kg)
Berat Sapih (Kg)
Berat 1 th, Jantan (kg)
Betina (Kg)
Berat 2 th, Jantan (Kg)
Betina (Kg)
Berat Dewasa, Jantan (kg)
Betina (Kg)
Ukuran Tubuh Dewasa :
Jantan :
Lingkar Dada (cm)
Tinggu gumba (cm)
Panjang badan (cm)
Betina :
Lingkar Dada (cm)
Tinggu gumba (cm)
Panjang badan (cm)
Persentase beranak/th (%)
12
70
115
110
210
170
350
225
181,4
122,3
125,6
160,0
105,4
117,2
76
12
75
120
110
220
180
335
235
180,4
126,0
134,8
158,6
114,0
118,4
70
12,8
73,5
118
111
218
179
352
235
180,6
125,6
132,1
159,2
112,8
118,0
66
13
72
117,8
113
222
182
360
238,5
182
125,2
133,6
160,0
112,5
118,0
72
16
86
135
125
235
200
395
264
185,5
125,4
142,3
160,8
113,6
118,5
69
18
94
145
135
260
225
494
300
198,8
130,1
146,2
174,2
114,4
120,0
86
* Pane, (1989).


PEMBAHASAN
Kebutuhan Sapi Potong
Data SUSSENAS tahun 1996 menunjukkan konsumsi daging sapi per kapita penduduk Indonesia sekita 1.448 kg/tahun. Selanjutnya dijelaskan bahwa peningkatan kebutuhan tersebut diakibatkan oleh bertambahnya jumlah penduduk dan peningkatan konsumsi daging per kapita. Konsumsi daging per kapita tahun 2000, 2003 dan 2006 diperkirakan sekitar 1.476 kg/tahun, 1.549 kg/tahun dan 1.633 kg/tahun (Anonimus, 1998).
Putu et al. (1997) menyatakan bahwa kondisi peternakan sapi potong saat ini masih mengalami kekurangan pasokan sapi bakalan lokal karena pertambahan populasi tidak seimbang dengan kebutuhan nasional, sehingga terjadi impor sapi potong bakalan dan daging. Lanjut dijelaskan bahwa jika dilihat dari trend permintaan akan daging didalam negeri maka diperkirakan tahun 2000 diperlukan daging sapi sebanyak 670 ribu ton yang setara dengan sapi siap potong sebanyak empat juta ekor, sementara dari dalam negeri bila hanya mengandalkan teknologi yang dan kebijaksanaan yang ada dengan rata-rata peningkatan populasi 2–3% maka akan tersedia sebanyak 395.000 ton daging yang setara dengan 2,5 juta ekor berarti pada tahun 2000 akan kekurangan sebesar 1,5 juta ekor.
Pada tahun 2003 diperkirakan Indonesia membutuhkan daging sapi sekitar 781.000 ton. Produksi daging sapi nasional diperkirakan hanya dapat memenuhi 434.300 ton sehingga akan terjadi kekurangan sebanyak 246.700 ton.
Impor ternak sapi daging sapi meningkat semakin tajam. Pengamatan selama periode tahun 1992-1996 menunjukkan bahwa (i) volume impor ternak sapi (sebagian besar bakalan) meningkat dengan laju sekitar 43% per tahun, (ii) nilai impor ternak sapi meningkat sekitar 56% per tahun, (iii) volume impor daging sapi meningkat sekitar 40% per tahun dan (iv) nilai impor daging sapi meningkat sekitar 38% per tahun. Akibatnya defisit neraca perdagangan ternak dan daging sapi melonjak dari US$ 19.7 juta pada tahun 1992 menjadi US$ 150.6 juta pada tahun 1996 (Anonimus, 1998).
Hal yang patut mendapat perhatian dalam perkembangan impor ternak sapi adalah pergeseran dari komoditi sapi bibit (cattle breed) ke jenis komoditi sapi bakalan (feeder steers). Pada tahun 1992 komposisi impor ternak sapi kurang lebih 50% sapi bibit dan 50% sapi bakalan. Pada tahun 1996 komposisinya berubah menjadi 2% sapi bibit dan 98% sapi bakalan. Perkembangan semacam ini mencerminkan ketidakmampuan industri pembibitan sapi di Indonesia untuk mengembangkan bibit unggul asal luar negeri guna meningkatkan kualitas bibit sapi lokal sebagai upaya mencapai sasaran pertumbuhan populasi yang diharapkan (Anonimus, 1998). Adapun perkembangan impor ternak dan daging sapi dapat dilihat pada Gambar 1.
Dalam jangka panjang besarnya permintaan konsumsi daging sapi akan menyebabkan penurunan populasi secara nyata, dan apabila pemerintah tidak melakukan upaya yang sungguh-sungguh untuk meningkatkan angka net-increase dan net-calf crop sapi bukan hal yang tidak mungkin Indonesia masih terus akan mengimpor sapi meskipun harganya sangat mahal.
Potensi Pengembangan
Perkembangan populasi sapi potong sejak awal Pelita I (1969) sampai tahun 1996 menunjukkan peningkatan. Pada tahun 1969 populasi mencapai 4,9 juta ekor dan pada tahun 1994 menjadi 11,367 juta ekor atau mengalami peningkatan 1,8 kali lipat dan pada tahun 1997 telah mencapai 12,552 juta ekor (Anonimus, 1997), namun peningkatan populasi sapi potong di Indonesia tidak dapat mengimbangi permintaan kebutuhan daging secara nasional. Astuti (1999) menyatakan bahwa beberapa hal yang menyebabkan perkembangan populasi yang lambat adalah rendahnya produktivitas ternak lokal dan masih tingginya mortalitas. Lebih jauh dijelaskan bahwa mengingat kebutuhan daging yang belum terpenuhi dan konsumsi yang terus meningkat, maka populasi ternak lokal perlu dipacu perkembangannya dengan peningkatan kelahiran dan penekanan kematian.
Sapi Bali merupakan breed sapi asli Indonesia yang populasinya telah mencapai 2.632.124 ekor atau sekitar 26,92 % dari total populasi sapi potong yang ada di Indonesia (Anonimus, 1999). Penyebaran sapi Bali telah meluas hampir keseluruh wilayah Indonesia. Konsentrasi sapi Bali terbesar di Sulawesi selatan, Pulau Timor, Bali dan Lombok, namun kemurnian sapi Bali tetap dipertahankan di Pulau Bali, sebagai sumber bibit yang pembinaannya dilakukan oleh Proyek Pembibitan dan Pengembangan Sapi Bali (P3Bali). Hardjosubroto (1994) dan Soesanto (1997) menyatakan bahwa sapi Bali termasuk sapi unggul dengan reproduksi tinggi, bobot karkas tinggi, mudah digemukkan dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga dikenal sebagai sapi perintis. Sebagai sapi asli yang potensi reproduksinya lebih baik dibanding sapi lainnya maka upaya pengembangan sapi Bali sangatlah memungkinkan oleh karena juga didukung oleh kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang sangat tinggi. Martojo (1989) menyatakan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja dan produksi daging dalam negeri, penggunaan sapi Bali diberbagai wilayah di Indonesia mempunyai prospek yang sama baiknya.
Dalam perkembangan peternakan sapi Bali telah diperoleh beberapa kemajuan terutama dalam menekan angka kematian pedet. Admadilaga (1975) menyatakan bahwa angka kematian pedet sapi Bali sebesar 10–80%. Darmadja (1980) yang melakukan penelitian di Bali memperoleh kematian pedet sebesar 7,33%, sedang Tanari (1999) pada lokasi yang sama memperoleh angka kematian pedet yang lebih rendah sebesar 7,26% terhadap kelahiran atau sebesar 1,84% dari populasi. Kemampuan lain yang dapat diandalkan untuk pengembangan populasi sapi Bali adalah jarak beranak (calving interval) yang cukup baik yakni bisa menghasilkan satu anak satu tahun. Djagra dan Arka (1994) memperoleh calving interval yakni 14 – 15 bulan. Sedang pada tahun 1999 (Tanari, 1999) memperoleh calving interval sebesar 12,19 ± 0,06 bulan hal tersebut diakibatkan karena manajemen reproduksi yang dilaksanakan di Bali cukup baik yakni perkawinan rata-rata dilaksanakan dengan teknik inseminasi buatan, ditunjang oleh biologi reproduksi dari sapi Bali yang cukup baik yakni fertilitasnya tinggi yakni sekitar 83%.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan perkembangan sapi potong adalah sumber daya yang tersedia seperti sumberdaya alam, sumber daya manusia dan sumber daya pakan ternak yang berkesinambungan, selanjutnya proses budidaya perlu mendapat perhatian meliputi bibit, ekologi dan teknologi serta lingkungan yang strategis yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keberhasilan pengembangannya (Putu et al., 1997). Jumlah rumah tangga peternak sapi potong hingga tahun 1993 hanya sekitar 1,2% dari penduduk Indonesia atau sekitar 2.566.000 peternak (Anonimus, 1999). Jika masyarakat diberdayakan maka potensi sumber daya manusia sangatlah besar.
Rencana pengembangan populasi sapi potong tidak terlepas dari daya dukung wilayah yang meliputi dua hal yaitu ketersediaan ruang tempat ternak dibudidayakan dan ketersediaan pakan ternak untuk kelangsungan hidupnya. Anonimus (1998) menyatakan bahwa diperkirakan ketersediaan potensi pakan hijauan mengalami peningkatan sekitar 3% per tahun selama periode tahun 1991-1996, yakni dari 31,3 juta ST (satuan ternak) pada tahun 1991 menjadi 36,3 juta ST pada tahun 1996. Oleh karenanya dengan keadaan struktur populasi yang ada sampai tahun 1999 sebesar 9.099.500 ST, dapat diprediksi daya tampung tersisa sebesar 27.200,500 ST. Dari potensi ketersedian pakan maka kemungkinan pengembangan populasi kedepan masih sangat memungkinkan.
Anonimus (1989) menyatakan bahwa distribusi kesediaan pakan antar Wilayah cukup bervariasi, pada tahun 1996 diperkirakan sebagai berikut; (i) Jawa dan Bali sekitar 55%, (ii) Sumatra 22%, (iii) Kalimantan 4%, (iv) Sulawesi 11 persen dan (v) wilayah Indonesia lainnya sebanyak 8%. Dalam sepuluh tahun mendatang diperkirakan distribusi ketersediaan pakan hijauaan ternak tersebut akan mengalami pergeseran cukup nyata, yakni peranan wilayah Jawa dan Bali turun menjadi 48%, Sumatra meningkat 33%, Kalimantan tetap sekitar 4%, Sulawesi menurun menjadi 10% dan wilayah Indonesia lainnya juga menurun menjadi 5%. Hal tersebut juga akan membuat suatu pergeseran cara beternak terutama di Jawa dan Bali yang lebih mengarah semakin komersial dan bergeser dari status usaha sambilan menjadi cabang usahatani
Dalam melaksanakan pengembangan populasi sapi Bali, penentuan pengeluaran ternak termasuk pengendalian pemotongan ternak betina produktif perlu diperhatikan, dan menghitung dengan tepat jumlah sapi Bali yang dapat dikeluarkan, agar tidak mengganggu keseimbangan populasinya dari suatu wilayah. Hardjosubroto (1994) menyatakan bahwa out put sapi potong dari suatu wilayah tertentu agar keseimbangan populasi ternak potong tersebut tetap konstan dipengaruhi antara lain natural increase, tingkat kematian ternak, kebutuhan ternak pengganti, jumlah ternak tersingkir, pemasukan ternak hidup dan besarnya proyeksi kenaikan populasi ternak di daerah tersebut.
Penelitian out put diberbagai daerah telah banyak dilakukan. Hasil penelitian out put sapi potong di Daerah IstimewaYogyakarta tahun 1987 sebesar 19,84 % dari populasi yang terdiri dari 9,54 % sapi muda dan 10,30 % sapi dewasa (Hardjosubroto, 1987). Budiarto (1991) dalam penelitiannya di Jawa Timur tahun 1989 memperoleh out put sapi potong sebesar 20,98 % dari populasi, terdiri dari 7,89 % sapi jantan muda, 3,0% sapi betina muda, 3,35% sapi jantan dewasa dan 6,74% sapi betina dewasa. Selanjutnya Maskyadji (1992) memperoleh out put sapi Madura di Pulau Madura sebesar 17% yaitu dari sapi muda jantan dan betina masing-masing 1,69% dan 1,26 % sedang sapi tua jantan dan betina masing-masing 6,54% dan 7,56%. Sedang Tanari (1999) memperoleh out put sapi Bali di Pulau Bali sebesar 20,81% yang terdiri dari sapi muda jantan dan betina masing-masing 9,40% dan 3,92%, sedang sapi tua jantan dan betina masing-masing 0,85% dan 6,6%. Oetoro (1997) melaporkan bahwa secara nasional out put sapi potong pada tahun 1996 sebesar 15,2 % dengan kenaikan populasi 3,5% dan pada tahun 1997 sebesar 14,5% dengan kenaikan populasi 5%. Out put ternak dari suatu wilayah ditentukan oleh struktur populasi dan rencana pengembangan atau peningkatan populasi dari wilayah tersebut. Untuk menentukan out put dari suatu wilayah perlu pertimbangan kebutuhan ternak pengganti yang akan digunakan untuk perkembangbiakan sehingga populasinya tidak akan terkuras akibat pengeluaran yang berlebihan.
Pola Pengembangan
Pola pengembangan peternakan rakyat pada prinsipnya terdapat dua model, yakni (i) Pola Swadaya dan (ii) Pola Kemitraan. Pola swadaya merupakan pola pengembangan peternakan rakyat yang mengandalkan swadaya dan swadana peternak, baik secara individu maupun kelompok. Sedangkan pola kemitraan (PIR-NAK) merupakan kerjasama yang saling antara perusahaan inti dengan peternak rakyat sebagai plasma (Anonimus, 1998). Dijelaskan pula bahwa dalam kerjasama atau kemitraan ini, seluruh kegiatan pra-produksi, produksi hingga pasca produksi dilakukan dengan kerjasama antara plasma dan inti.
Pola pengembangan peternakan rakyat ini akan menjadi landasan utama dalam penentuan alternatif kebijakan pemerintah dalam menopang dan mendorong agribisnis peternakan rakyat berwawasan agribisnis. Apabila persentase pengembangan ternak swadaya mendominasi pada peternakan rakyat, maka peran pemerintah (government intervention) mempunyai derajat yang cukup tinggi. Namun demikian apabila kemitraan mendominasi dalam pengembangan peternakan rakyat, maka peran pemerintah relatif berkurang, karena swastanisasi usaha peternakan sudah berkembang. Secara sederhana, peran pemerintah dibagi ke dalam tiga bagian, yakni (1) motivator (development agent), (2) fasilitator/services, dan (3) regulator. Derajat intervensi pemerintah dalam penentuan kebijakan pembangunan peternakan ditentukan oleh karekteristik pola pengembangan usahaternak rakyat yang paling dominan.
Pemberdayaan masyarakat dalam konteks pengembangan peternakan rakyat merupakan pengembangan agribisnis peternakan yang bertujuan untuk mensejahterakan petani dalam mengejar ketinggalannya serta dapat meningkatkan produktivitas ternak khususnya ternak ruminansia (sapi Bali).
Secara prinsip pemberdayaan dalam konteks suatu “proses” mengacu pada upaya proses pemberdayaan ekonomi usaha ternak model mix-Farming, dari existing condition ke optimum condition (part time) dan kemudian diarahkan pada usaha ternak yang sustainable (full time) (Anonimus, 1998). Selanjutnya dijelaskan bahwa proses pemberdayaan tersebut mengacu pada upaya; (1) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, (2) peningkatan pertumbuhan populasi ternak ruminansia dan (3) upaya menopang terbentuknya “sentra produksi ternak ruminansia di Indonesia”. Prinsip dasar dalam pelaksanaan usaha ternak adalah efesien dan berdaya saing yang mampu mendorong usaha ternak sebagai usaha pokok serta mampu mendukung peningkatan produksi daging ternak ruminansia di Indonesia.
Pola Pemuliaan Ternak
Kebutuhan akan adanya suatu Rancangan Program Pemuliaan Ternak Nasional yang mempunyai dasar hukum telah lama dirasakan (Martojo, 1989). Selanjutnya dijelaskan bahwa beberapa gagasan atau usulan telah diajukan pada masa REPELITA I sampai IV oleh Direktorat Jenderal Peternakan setiap REPELITA. Penyusunan rancangan pengembangan dan pemuliaan diperlukan analisis daya dukung wilayah. Untuk hal tersebut telah dilaksanakan penelitian potensi wilayah di seluruh Indonesia (Anonimus, 1998). Hasil yang diperoleh menetapkan wilayah-wilayah pengembangan dengan mengacu pada ketersediaan pakan ternak dengan perhitungan daya tampung per satuan Unit Ternak. Sampai tahun 1996 diperkirakan daya tampung sebesar 36,3 juta ST, potensi ini bervariasi antar provinsi yakni; Jawa dan Bali 55%, Sumatra 22%, Kalimantan 4%, Sulawesi 11% dan Wilayah Indonesia lainnya 8%. Dengan demikian terdapat beberapa provinsi yang berpotensi untuk pengembangan ruminansia khususnya sapi Bali. Martojo (1989) menyatakan bahwa pengembangan ruminansia diwilayah tertentu selanjutnya dilengkapi dengan rancangan peningkatan mutu genetik ternak. Salah satu cara untuk mempertahankan mutu genetik sapi Bali dan berbagai bangsa sapi lain di daerah sumber bibit adalah menghitung dengan tepat jumlah sapi dari berbagai mutu genetik bibit yang dapat dikeluarkan, seimbang dengan jumlah dan mutu bibit yang perlu dipertahankan sebagai ternak pengganti. Selain cara tersebut diatas dapat pula dilakukan persilangan sapi Bali dengan berbagai bangsa lain. Martojo (1989) menyatakan bahwa persilangan sapi Bali dengan berbagai bangsa lain menghasilkan sapi silangan yang menunjukkan sifat pertumbuhan yang meningkat sebanyak 50 – 100 %. Hal ini terutama terjadi sebagai hasil persilangan dengan sapi Bos Indicus, Bos Taurus, dan berbagai bangsa baru silangan seperti Santa Gertrudis, Droughtmaster, Belmot Red, Braford, Brangus dan lainnya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
· Kebutuhan konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia masih mengharapkan import dari negara lain, oleh karena kemampuan ternak lokal untuk memenuhi kebutuhan konsumsi daging sapi belum dicapai.
· Untuk meningkatkan populasi sapi perlu diperhatikan tiga hal yakni; sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya pakan ternak yang berkesinambungan.
· Pola kebijakan pengembangan diarahkan pada pola kemitraan sehingga peran pemerintah lebih hanya kepada pemberi motivator, sebagai fasilitator dan regulator.
· Diperlukan program pemuliaan untuk mempertahankan atau meningkatkan mutu genetik sapi Bali di Daerah pengembangan.
S a r a n
· Perlu perhatian dan kebijakan pemerintah yang lebih baik dalam penanganan pengembangan populasi sapi potong khususnya sapi Bali diberbagai daerah di Indonesia, dengan memberdayakan petani peternak dan sumber daya pakan yang melimpah.
· Kontrol yang ketat terhadap jumlah sapi yang dikeluarkan (dipotong) dengan memperhatikan jumlah ternak pengganti dan perkiraan peningkatan populasi tiap tahun, serta pelarangan yang ketat terhadap pemotongan betina produktif.
· Diperlukan kebijakan pemerintah sebagai motivator, fasilitator dan regulator untuk lebih menggiatkan peternakan yang berbasis pada peternakan kerakyatan dengan pola kemitraan.
· Pola pengembangan peternakan sebaiknya diarahkan pada usaha ternak yang sustaianable (full time), untuk lebih meningkatkan kesejahteraan petani (to increase farmer’s levelfare), dan meningkatkan pertumbuhan populasi ternak ruminansia khususnya sapi Bali.

DAFTAR PUSTAKA

Admadilaga, 1975. Kedudukan Usaha Ternak Tradisional dan Perusahaan Ternak dalam Sistem Pembangunan Peternakan. Work Shop Purna Sarjana Ekonomi Peternakan. F.E. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Anonimus, 1998. Kajian Pola Pengembangan Peternakan Rakyat Berwawasan Agribisnis. Lembaga Penelitian IPB dan Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian Republik Indonesia.
------------, 1999. Buku Statistik Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan. Jakarta.
Astuti, M., W. Hardjosubroto dan S. Lebdosoekajo. 1983. Analisis Jarak Beranak Sapi PO di Kecamatan Cangkringan DIY. Proceeding Pertemuan Ilmiah Ruminansia Besar. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan BP3. Departemen Pertanian, Bogor.
Astuti, M., 1999. Pemuliaan Ternak, Pengembangan dan Usaha Perbaikan Genetik Ternak Lokal. Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Pemuliaan Ternak pada Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Budiarto, A., 1991. Produktivitas Sapi Potong di Jawa Timur Tahun 1988-1989. Tesis Pasca Sarjana, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Dalton, C. 1987. An Introduction to Practical Animal Breeding. English Language Book Society, Longman.
Darmadja, S.D.N.D. 1980. Setengah Abad Peternakan Sapi Tradisional dalam Ekosistem Pertanian di Bali. Disertasi Universitas Padjajaran, Bandung.
Djagra, I.B., I.B. Arka. 1994. Pembangunan Peternakan Sapi Bali di Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Lokakarya Pengembangan Peternakan Sapi di Kawasan Timur Indonesia, tanggal, 6-8 Februari 1994, Mataram
Djanuar, R. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Keman , S., 1986. Keterkaitan Produktivitas Ternak dengan Iklim, Masalah dan Tantangan. Pidato Pengukuhan Guru Besar, Pada Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mata, Yogyakarta.
Maskyadji, A.S.Z.Z., 1992. Pertumbuhan dan Out put sapi Madura di Pulau Madura. Tesis Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.